Sabtu, 15 Nov 2025 - 09:15:00 WIB - Viewer : 236
Semangat Bustam dan Jejak Medco dalam Manisnya Madu Emas Aur Duri
Bisnis24.com. Palembang – Kerentanan seringkali dialami warga desa terutama di provinsi Sumatera Selatan yang umumnya, menggantungkan hidup pada hasil perkebunan karet dan kelapa sawit jika harga komoditas sedang jatuh.
Tak banyak yang bisa dilakukan warga pada saat masa paceklik melanda, kecuali bertahan. Bahkan seringkali, sebagian masyarakat terpaksa berhutang atau menggadaikan harta benda untuk sekadar menyambung hidup pada saat sulit itu.
Namun ada yang berbeda dengan warga Desa Aur Duri, Kecamatan Rambang Niru (d/h : Rambang Dangku), Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, yang sudah mengecap Manisnya rezeki dari Budidaya Lebah Madu yang menjadi sumber pendapatan baru bagi warga desa.
Hadirnya Budidaya lebah madu alami berkualitas tinggi (madu emas) ini tak hanya memberikan pemasukan tambahan bagi warga tapi juga mengangkat martabat Desa Aur Duri yang kini mulai dikenal sebagai desa unggulan di sektor ekonomi kreatif, dimana masyarakat tidak hanya menjual madu, tapi juga mulai merintis produk turunan seperti sabun madu dan propolis.
Ini semua bermula sejak kehadiran Medco E&P Lematang pada tahun 2016 menjadi titik balik berdayanya petani madu di Aur Duri. Bantuan yang diberikan sangat spesifik dan strategis, di bawah payung Program Pengembangan Masyarakat (PPM). Medco tidak hanya memberi modal, tetapi menawarkan solusi tuntas terhadap ancaman terbesar komunitas.
Bustam Arifin (64), warga Desa Aur Duri, yang kini menghabiskan sebagian besar harinya menjadi peternak lebah madu ini, menceritakan bahwa dirinya mulai beternak lebah madu pada 2014, atau 2 tahun sebelum kehadiran Program Pengembangan Masyarakat (PPM) Medco E&P.
“Tahun 2014 Sudah mulai bergerak tapi belum ada hasil” ujar Bustam seperti dikutip dari AMPERA.CO, sabtu (15/11/2025).
Menurutnya, dulu usahanya masih mengalami banyak kekurangan dan keterbatasan modal. Apalagi kalau kotak sarang lebah diserang beruang.
“Kalau kotak (sarang) sudah dihancurkan beruang, kami dulu tidak mampu membuat pengganti karena modalnya besar,” ceritanya mengenang masa-masa sulit sebelum pendampingan datang.
Sejak 2016, Bustam menjadi binaan KKKS Medco E & P Lematang (Medco E&P), yang tergabung dalam Kelompok Budidaya Lebah Madu Karya Maju Bersama. Bustam dan warga desa Aur Duri mendapat Bantuan dalam bentuk peralatan, pelatihan, dan pendampingan pemasaran.
Bustam kini memiliki belasan kotak berukuran besar. Setiap kotak bisa menghasilkan hingga lima kilogram madu, sementara yang kecil sekitar dua kilogram.
“Dulu,sebelum dibantu Medco, Produksi tidak banyak. Sekarang setelah dibantu oleh medco, produksi jadi meningkat. Apalagi medco juga ikut bantu memasarkan sehingga harga madu hasil produksi juga lebih tinggi” ujar pria kelahiran tahun 1961 ini dengan semangat.
Menurutnya, kalau kotak sarang besar, hasilnya lebih banyak, walaupun cuma sepuluh kotak. Apalagi panen dilakukan setiap tiga minggu, jika musim kemarau antara Juli hingga Oktober.
Sejak berdirinya Kelompok Budidaya Lebah Madu Karya Maju Bersama, binaan KKKS Medco E & P Lematang (Medco E&P), kehidupan Bustam dan warga desa Aur Duri perlahan berubah. Dari yang dulu mengandalkan hasil kebun karet yang musiman, kini mereka menikmati manisnya rezeki dari tetes-tetes madu alami.
Bustam bersama Kelompok Karya Maju Bersama di Dusun III, Desa Aurduri saat ini mengelola koloni lebah madu liar atau lebah "pramuka" lebah madu jenis Apis cerana yang merupakan lebah madu asli Asia yang menghasilkan madu dengan rasa lezat, karena mencari makan sendiri, menghisap nektar dan mengumpulkan serbuk sari dari bunga pohon kelapa sawit dan pohon karet menggunakan probosis lebah yang kemudian akan diolah di sarang menjadi madu.
“Tahun 2025 ini, produksi madu kami mencapai angka 174 kilogram dengan rata-rata panen 15-20 kg per bulan pada musim puncaknya, yakni antara Juli hingga Oktober” ujar Bustam melanjutkan ceritanya.
Diterangkannya, nilai jual madu murni mereka mencapai Rp 135.000 per kilogram dan telah menjangkau pasar regional hingga ke Provinsi Jambi, Bengkulu, Lampung, dan bahkan Pulau Jawa, berkat bantuan pemasaran dari Medco.
“Bisa lah menambah bantu-bantu penghasilan rumah tangga dan biaya pendidikan anak,” ujar Bustam, sembari menyampaikan bahwa madu bisa penyangga ekonomi yang sangat stabil.
Meski saat ini, hasil produksi madu Bustam dan kelompoknya sedikit menurun dari awal pengembangan di tahun 2017 yang mencapai 800 kg per tahun, karena faktor alam dan menurunnya jumlah anggota aktif, termasuk juga Kegiatan budidaya lebah madu ini sempat terhenti saat pandemi Covid-19, namun kini kembali berjalan.
Menurutnya, Tantangan tetap datang dari serangan beruang yang kadang menghancurkan ratusan kotak di malam hari. Meski begitu, semangat anggota kelompok tidak padam.
“Kita terus memelihara lebah, menanam sawit dan karet untuk menambah penghasilan, serta menjaga keseimbangan alam di sekitar kebun. Apalagi lebah madu telah mengangkat nama desa Aur duri menjadi desa unggulan, mendapatkan perhargaan dan menjadi percontohan di Sumsel” tutur Bustam.
Desa Unggulan Aur Duri & Jejak Medco
Kini, Desa Aur Duri mulai dikenal sebagai desa unggulan di sektor ekonomi kreatif. Masyarakat tidak hanya menjual madu, tapi juga mulai merintis produk turunan seperti sabun madu dan propolis.
Keberhasilan ini bukan hanya tentang produksi madu dan pemasarannya, tetapi juga tentang semangat pemberdayaan Masyarakat yang terus mengalir hingga menjadi tumbuh dan unggul dalam ekonomi kreatif hingga menciptakan solusi ekonomi sirkular yang bernilai tinggi.
Dari desa kecil yang perekonomian warganya dulu hanya mengandalkan sektor komoditas karet yang sangat rentan ambruk, kini Aur Duri telah menjelma menjadi desa unggulan yang menggerakkan ekonomi dan menopang kehidupan ekonomi warganya.
Hirmawan Eko Prabowo, Manager Field Relation & Community Enhancement Medco E&P South Sumatra Region menuturkan bahwa Medco E&P melihat program ini sebagai investasi yang paling stabil dan menjadi dividen sosial jangka panjang.
“Harapan kami, kegiatan budidaya lebah madu ini terus memberi manfaat bagi peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar Hirmawan
Hirmawan menjelaskan bahwa Industri migas memang berfluktuasi, tapi kebutuhan akan madu murni terus ada.
“Kami ingin energi yang kami hasilkan tetap memberi kehidupan, bahkan setelah minyaknya habis. Madu ini adalah dividen sosial jangka panjang bagi masyarakat, investasi dalam kemandirian yang tidak akan lekang.” tegasnya.
Melalui program ini, Medco E&P telah meninggalkan jejak positif dalam memberdayakan dan mendukung peternak lebah madu lokal, khususnya di wilayah operasionalnya di Muara Enim, Sumatera Selatan, sehingga Program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) ini bisa meningkatkan ekonomi masyarakat dan kemandirian lokal.
Dari kebun yang sederhana, dari lebah-lebah kecil yang rajin bekerja, Desa Aur Duri menemukan makna baru tentang kemandirian. Di setiap tetes madu yang dihasilkan, tersimpan kisah perjuangan, kerja keras, dan semangat gotong royong yang menghidupkan kembali ekonomi desa.
Program ini juga menjadi bukti bahwa ketika energi kebaikan, kebersamaan, dan kepedulian bersatu padu seperti yang dilakukan Medco E&P melalui program CSR-nya yang melakukan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi sederhana yang menghasilkan nilai tinggi mengubah masyarakat yang bergantung pada hasil kebun karet musiman menjadi produsen produk premium dengan jaminan kualitas dan rantai pasok yang kuat, sehingga desa tidak hanya lagi sekadar tempat tinggal, melainkan sumber ekonomi baru dan inspirasi bagi negeri.
