Sabtu, 16 Agu 2025 - 15:00:00 WIB - Viewer : 1416
Entreprenuership dan Masyarakat Kita
BISNIS24.COM
Jelang usia ke-80 Republik Indonesia, Menjadi Entreprenuer terlihat telah menjadi tren positif dan semakin di gandrungi bagi generasi muda. Hal ini menjadi modal patut kita syukuri bersama sebagai bangsa Indonesia yang akan akan menyongsong Indonesia emas 2045 dengan Bonus Demografi-nya.
Dengan semakin tren-nya budaya entrepreneurship dikalangan anak-anak muda saat ini, tentunya akan sangat bermanfaat untuk menopang kehidupan ekonomi bangsa Indonesia di masa-masa yang akan datang.
Tentunya hal ini telah menjadi trend berbeda dengan anggapan Masyarakat umum sekitar satu decade yang lalu, meski pandangan tersebut belum sepenuhnya luntur, terutama untuk pandangan Masyarakat di daerah dan di wilayah pedesaan, yang umumnya masih memandang sebelah mata untuk anak-anak muda yang bertekad menjadi entrepreneur atau berwirausaha.
Entrepenuer di mata Masyarakat kita.
Entrepenuer atau Pekerjaan wiraswasta bagi Masyarakat awam kita masih menyisakan dianggap atau identik dengan pekerjaan serabutan dan “rezeki macan”, yang tidak jelas masa depannya, apalagi masa pensiunnya. Bahkan, wiraswasta masih dianggap oleh masyarakat sebagai pengangguran terselubung.
Pendapat dan pola pikir seperti inilah yang kemudian membuat profesi wiraswasta (entreprenuer) menjadi remeh temeh dimata para orang tua kita, meskipun sesungguhnya tidak seluruhnya demikian. Karenanya, hampir sebagian besar orangtua lebih mendorong anak-anaknya untuk bekerja terutama bekerja menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) atau pegawai BUMN, dengan harapan dapat meningkatkan derajat keluarga dimata lingkungan dan masyarakat sekitar, apalagi menjadi ASN atau Pegawai BUMN dianggap dapat menyelamatkan masa tua dengan uang pensiun yang akan diperoleh sampai dia meninggal.
Dalam tataran tertentu, ada sebagian orangtua yang lebih bersedia menyiapkan “modal sogokan” dalam jumlah yang cukup fantastis untuk memuluskan jalan anaknya menjadi ASN atau Pegawai BUMN, daripada memberikan modal tersebut untuk usaha awal anaknya. Bahkan dibeberapa daerah, walau terdengar sayup, seberapa besarnya pun angka pasaran nilai “sogokan” itu, si orangtua akan berusaha menyiapkan dan mencarikan modal tersebut asalkan anaknya bisa lulus menjadi ASN. Namun jika untuk modal usaha, jawabannya mungkin tidak ada uang.
Perlahan tapi pasti, realitas dan pola pikir masyarakat seperti inilah yang menyebabkan terus meningkatnya angka pengangguran dibeberapa daerah di Indonesia, terutama diwilayah pedesaan. Bisa kita bayangkan Kesenjangan (Gap) antara Kesempatan Kerja dengan Jumlah Angkatan Kerja yang tinggi. Perbandingan jumlah ASN atau pegawai BUMN yang pensiun dengan begitu banyaknya anak-anak muda yang menjadi wisudawan baru dari berbagai kampus di Indonesia.
Jika tidak diantisipasi dengan baik, realitas seperti ini bisa diamati sendiri menjadi fakta dilapangan yang memperlihatkan bahwa satu pekerjaan saja, diperlombakan oleh seribu calon pelamar kerja. Tentunya selisih jumlahnya tidak sedikit. Mereka yang termasuk dalam Angkatan Kerja atau tenaga muda yang siap kerja ini harus siap-siap menjadi calon pengangguran jika orientasi dan pola pikirnya tidak berubah, yang pada ujungnya akan menjadi masalah bagi bangsa dan negara Indoensia. Mau kemana angkatan muda yang siap kerja ini jika pola pikir tidak berubah?
Trend Positif dan Dukungan Bagi Wirausaha Muda
Meski Entreprenuer telah menjadi tren karier yang berkembang pesat saat ini, terutama tren dikalangan anak-anak muda untuk menjadi seorang entrepreneur muda (wirausaha muda), yang telah digandrungi anak-anak muda di kota-kota besar, namun hal positif ini harus terus didukung oleh berbagai stake holder terkait agar juga merambah ke wilayah pedesaan.
Komitmen pemerintah untuk mendukung kemajuan UMKM dan Wirausaha pemula harus didorong secara berkesinambungan, seperti dengan pengalokasian anggaran untuk mendorong pengembangan dan pemberdayaan sektor ini secara menyeluruh.
Program pemerintah di era Presiden Prabowo yang mengalokasikan anggaran hampir Rp1.000 triliun untuk mendorong pengembangan tersebut diharapkan bisa dikontrol dengan baik, agar implementasi dilapangan bisa menjadi tepat sasaran.
Namun disisi lain, penulis berpendapat bahwa dukungan utama yang bisa dilakukan untuk terus mendorong trend positif anak-anak muda yang memilih jalur wirausaha adalah perubahan pola pikir dan sebutan dimasyarakat. Mengubah pola pikir masyarakat yang selama ini berorientasi ASN atau pegawai BUMN dan lebih menghargai profesi tersebut sebagai kasta tinggi dalam strata sosial masyarakat, untuk perlahan berubah dengan lebih membuka ruang untuk memberikan penghargaan dan menghargai profesi wirausaha yang sedang berproses (wirausaha pemula) untuk mendapatkan porsi yang cukup baik.
Untuk itulah, merupakan suatu hal yang sangat penting untuk mengubah cara pandang Masyarakat dan negara dalam mendorong pelaku wirausaha muda yang umumnya memulai dari sektor Usaha Mikri, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti mengubah penyebutan istilah mereka sebagai pelaku Usaha atau Pelaku UMKM, diubah menjadi sebutan sebagai Entrepenuer atau Pengusaha UMKM. Hal ini mungkin terlihat sepele, namun dapat memberikan dampak yang besar terhadap pola pikir dan kinerja pengusaha muda.
Dengan sebutan entrepenuer atau pengusaha UMKM, kita bisa mengajak mereka untuk berpikir sebagai pengusaha yang terus tumbuh yang berani untuk menargetkan untuk go nasional dan go internasional. Dengan pemikiran ini, maka cara bertindak, strategi, dan semangatnya juga akan berbeda.
Dukungan Kata entreprenuer atau Pengusaha Muda bak menjadi spirit baru yang memberikan life style dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi para entreprenuer muda. Tidak seperti dulu, dimana kegiatan wirausaha (entreprenuer saat ini) dilakukan kebanyakan semata-mata untuk menyambung hidup dan menjaga kelangsungan nafkah bagi keluarga, yang sangat jauh dari unsur keren.
Sebagai masyarakat, semangat dan kebanggaan para entreprenuer muda ini harus sama-sama kita bantu dorong dan kembangkan. Pendidikan atau kurikulum kewirausahaan yang telah diberikan oleh sebagian besar perguruan tinggi saat ini harus bersama-sama kita bantu kembangkan, agar semangat mendorong bertumbuhnya bibit-bibit wirausaha baru dari kalangan kampus bisa terwujud dengan baik yang pada akhirnya diharapkan akan membantu perekonomian negara secara keseluruhan.
* Penulis adalah Praktisi Wirausaha dan Dosen Universitas Tamansiswa Palembang
